Bukit Gundaling

contak

gunda-2 gunda

 

Bukit Gundaling, adalah salah satu obyek wisata di Berastagi, yang berjarak kurang lebih 3 km dari pusat kota Berastagi. Bukit yang memiliki ketinggian 1575dpl (diatas permukaan laut), ini sangat nyaman sebagai tempat rekreasi keluarga. Dari atas Bukit ini pula kita dapat menikmati panorama gunung berapi Sibayak dan Sinabung. Untuk mencapai kawasan wisata Bukit Gundaling ini dapat dilakukan dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan. Di Bukit ini terdapat taman yang indah, tempat bersantai dan sarana jalan setapak untuk olahraga yang mengitari puncak Bukit Gundaling. Dari kota Medan ke arah Brastagi berjarak kurang lebih 66 km. Dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi dan bus umum yang memerlukan waktu sekitar 2 jam. Di hari besar dan liburan, biasanya memerlukan waktu yang lebih lama, karena pada hari libur sering terjadi kemacetan. Namun, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sudah berusaha mengantisipasinya dengan membuat peraturan daerah (Perda) Sumut tentang larangan atau pembatasan truk melintas di jalur wisata Medan-Berastagi pada hari libur dan hari besar lainnya. Di telinga orang-orang Medan, atau wisatawan asal daerah lain dari Tanah Air, Gundaling sudah tenar di jagad kepariwisataan kita, khususnya di Sumatera Utara. Karena Gundaling, Tanah Karo pun sering disebut-sebut sebagai sasaran alternatif kedua para wisatawan setelah Parapat.
Kondisi fisik kawasan
Lain dulu lain sekarang. Mungkin itulah kalimat yang pas untuk menggambarkan bagaimana Gundaling saat ini. Salah satu lokasi wisata andalan Kabupaten Karo ini, kini lebih sering terlihat sepi, kondisi ini sangat jauh berbeda pada masa-masa sebelumnya. Di telinga orang-orang Medan, atau wisatawan asal daerah lain dari Tanah Air, Gundaling sudah tenar di jagad kepariwisataan kita, khususnya di Sumatera Utara. Karena Gundaling, Tanah Karo pun sering disebut-sebut sebagai sasaran alternatif kedua para wisatawan setelah Parapat, Danau Toba.
Dari kota Medan ke arah Brastagi berjarak kurang lebih 66 km. Dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi dan bus umum yang memerlukan waktu sekitar 2 jam. Di hari besar dan liburan, biasanya memerlukan waktu yang lebih lama, karena biasanya terjadi kemacetan kemacetan. Namun, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sudah berusaha mengantisipasinya dengan membuat Peraturan Daerah (Perda) Sumut tentang larangan atau pembatasan truk melintas di jalur wisata Medan-Berastagi pada hari libur dan hari besar lainnya.
Untuk mencapai bukit gundaling dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya berjalan kaki atau menggunakan sado serta bisa menggunakan kendaraan pribadi roda dua dan roda empat serta bisa juga menggunakan kendaraan umum. Jika menggunakan kendaraan umum maka dikenakan biaya Rp 3.000 untuk setiap orang.
Bukit Gundaling, adalah salah satu obyek wisata di Berastagi, yang berjarak kurang lebih 3 km dari pusat kota Berastagi. Bukit yang memiliki ketinggian 1575 dari permukaan laut atau antara 200-300M berada di atas permukaan Kota Berastagi ini sangat nyaman sebagai tempat rekreasi keluarga. Dari atas bukit ini pula kita dapat menikmati panorama gunung berapi Sibayak dan Sinabung serta pemandangan alam lainnya seperti kota berastagi dan area pertanian penduduk, hembusan angin pegunungan yang menyejukkan adalah penyerta daya pikat lokasi yang jauh dari kebisingan itu.

gundaling_berastagi-3

Tak dapat disangkal, Gundaling pernah menikmati masa keemasannya pada tahun 1970-1990-an. Gundaling adalah tujuan favorit di antara objek wisata di Kabupaten Karo. Tak heran pula jika lokasi ini selalu ramai dikunjungi. Sayangnya, kini ia telah berubah. Masuk akal pula jika banyak kios-kios souvenir dan makanan tutup pada hari-hari biasa. Padahal, hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Apa yang menjadi daya tarik Gundaling pun sebenarnya bukan hal baru lagi. Orang-orang biasanya datang ke tempat ini untuk menikmati alam pegunungan yang sejuk, juga pemandangan pegunungan dan kebun-kebun rakyat yang menghijau. Apalagi jika kita menikmati kesejukan dan pemandangan itu dengan menaiki sado atau menunggangi kuda sendirian maupun beramai-ramai. Meski demikian, kenyataanya pengunjung Gundaling kian waktu kian berkurang. Imbas kemerosotan kawasan Bukit Gundaling ikut menyeret para pelaku wisata di sekitarnya. Selain para pedagang souvenir, makanan dan bunga-bunga kaktus yang menjadi ciri khas tanaman beriklim dingin ini, juga termasuk para penarik sado yang menjadi penarik minat para wisatawan.
salah satu penarik sado mengakui hal kemerosotan itu. “Ya, beda sekali antara dulu dan sekarang. Dulu, turis manca negara masih sering berkeliaran di sekitar Gundaling ini menikmati suasana alam dan pemandangannya. Sekarang sudah jarang bahkan hampir tak pernah lagi,” kata Ardi tarigan yang sudah menggeluti profesinya sejak tahun 1990-an ini. “Makanya lebih enak dulu,” tambahnya.
Kondisi fisik kawasan wisata bukit gundaling saat ini mengalami penurunan kapasitasnya karena banyak perubahan dimana pada saat sekarang ini (awal tahun 2011) kondisi kawasan tersebut sangat memprihatinkan dan mengalami degradasi kualitasnya, pada kawasan bukit gundaling ini sangat banyak terlihat penumpukan sampah dimana mana mulai dari atas bukit gundaling hingga didaerah sekitarnya, serta banyak fasilitas fasilitas yang tidak terawat, dari hasil survei penyusun hampir semua gazebo yang ada dikawasan bukit gundaling tidak terawat hal ini ditandai oleh banyaknya coretan-coretan di dinding dan tiang gazebo, dan dari penelusuran kami kepada masyarakat hal ini terjadi karena minimnya pengawasan dan perawatan oleh pihak atau intansi terkait, kata mereka terakhir kali dilakukan perbaikan terhadap pasilitas yang ada sekitar 2 tahun silam.
Selain itu banyak tempat tempat sampah yang sudah hilang sehingga sampah sampah diareal ini di buang sembarangan yang mengakibatkan kumuhnya kawasan tersebut serta tps pada kawasan ini juga tidak ada dan mobil pengangkut sampah dari pemerintah kota setempat tidak mengambil sampah atau tidak memiliki jalur pengangkutan di kawasan tersebut. Akibat dari kurangnya pemeliharaan yang dilakukan pada kawasan bukit gundaling kawasan ini terlihat kumuh dan sangat tidak terawat hal ini ditandai dengan banyaknya sampah sampah pada aliran drainase sehingga mengakibatkan penyumbatan,
Sepinya kawasan bukit gundaling ini juga karena \masih adanya oknum-oknum tertentu yang membuat wisatawan “ogah” berkunjung kembali ke Gundaling. Masalah perpakiran misalnya. “Akhir-akhir ini banyak berkeliaran kutipan-kutipan parkir ilegal yang tidak jelas dari mana asalnya. Selain itu mereka terkadang mematokkan tarif parkir tak sesuai yang akhirnya membuat wisatawan sering kecewa. Untuk tarif parkir mobil misalnya, tarifnya bisa mencapai Rp 11 ribu hingga Rp 15 ribu”nama.

lake-toba-view-from-gundaling
“Pantas saja wisatawan jengkel. Di sini, di setiap tempat dimintai tarif parkir. Sudah diminta di sana, dimintai lagi di sini. Jika pindah ke tempat lain sedikit saja dimintai lagi tarif parkir. Alhasil, uang mereka banyak keluar hanya untuk parkir, belum lagi tarif masuk Rp 2.000/orang,” katanya. “Bukannya ditangani satu pihak saja, pengelolaanya juga semrawut, sehingga pengutipannya berulang-ulang.” Tentu saja praktik-praktik ilegal seperti ini membuat para wisatawan sering merasa kecewa dan jengkel.
Dan meskipun praktik pengutipan liar ini akhir-akhir ini sudah mulai ditertibkan, namun masih menyisakan trauma bagi wisatawan. Tak mengherankan jika tidak sedikit kios-kios penjaja souvenir maupun kaktus dan dagangan lainnya tutup karena sepinya pengunjung. Omzet penjualan pun kian merosot, tak seperti dulu lagi. “Sekarang, terkadang dalam sehari tidak buka dasar,” katanya.kan perahu, sampan, dan speedboat jika anda ingin berkeliling danau.